Mengenal Ahmad Tantawi, dari Aktivis Nasional ke Nakhoda NWDI Lombok Tengah
Ahmad Tantawi selaku Ketua PD Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) Lombok Tengah periode 2026-2030.(Foto: PD NWDI Lombok Tengah)

Mengenal Ahmad Tantawi, dari Aktivis Nasional ke Nakhoda NWDI Lombok Tengah

Ahmad Tantawi terpilih Ketua PD NWDI Lombok Tengah 2026–2030 lewat selisih satu suara. Aktivis HMI dan putra Mantang ini kembali ke “rumah pertama” untuk memimpin penguatan pendidikan, dakwah, dan SDM umat dengan kepemimpinan inklusif.

TIMES Mataram,Senin 2 Februari 2026, 10:31 WIB
2.9K
A
Anugrah Dany Septono

LOMBOK TENGAHTidak semua perjalanan berakhir di tempat asing. Sebagian justru menemukan maknanya saat kembali ke titik awal. Bagi Ahmad Tantawi, kepulangan itu bernama Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah atau NWDI.

Di sebuah aula sederhana di Panji Sari, Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), nama Ahmad Tantawi disebut sebagai pemenang. Selisihnya tipis. Hanya satu suara. 

Namun bagi pria kelahiran Mantang itu, angka bukanlah ukuran. Yang lebih penting adalah kepercayaan, amanah, dan tanggung jawab sejarah yang kini ia emban.

Ahmad Tantawi resmi terpilih sebagai Ketua Pengurus Daerah (PD) NWDI Kabupaten Lombok Tengah untuk masa khidmat 2026–2030.

Sebuah kepemimpinan yang menandai babak baru—bukan hanya bagi organisasi, tetapi juga bagi perjalanan personalnya sendiri.

“Saya dilahirkan dari rahim NWDI, dibesarkan oleh HMI, sekarang kembali ke rumah pertama, NWDI. Bismillah NWDI daiman abadan,” kata Ahmad Tantawi, dalam pernyataannya, Senin (2/2/2026).

Kalimat itu bukan sekadar pernyataan. Ia adalah simpul dari perjalanan panjang ideologi, aktivisme, dan pengabdian.

Akar yang Tertanam Sejak Pesantren 

Ahmad Tantawi lahir di Mantang, 31 Desember 1985. Desa itu bukan hanya tempat ia tumbuh, tetapi juga ruang pertama pembentukan karakter.

Pendidikan dasarnya ditempuh di SDN Tundung, sebelum ia menimba ilmu di Pondok Pesantren Nurul Haramain NWDI. Sebuah ekosistem keilmuan yang menanamkan disiplin, spiritualitas, dan semangat berkhidmat sejak dini.

Dari pesantren itulah, nilai-nilai NWDI melekat. Namun jalan hidup membawanya keluar dari Lombok, menuju dunia akademik dan aktivisme.

Ia menyelesaikan studi hukum di Fakultas Hukum Universitas Mataram (Unram) pada 2009. Di kampus inilah, idealisme Tantawi menemukan wadah. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menjadi ruang tempanya menempa nalar kritis dan kepemimpinan.

Aktivisme Sebagai Sekolah Kehidupan 

Sosok Ahmad Tantawi mulai dikenal di lingkar aktivisme mahasiswa. Ia pernah memimpin HMI Komisariat Fakultas Hukum Unram (2005–2006), kemudian dipercaya menjadi Sekretaris Umum HMI Cabang Mataram (2008–2009).

Perjalanannya berlanjut ke tingkat nasional. Ia menjabat Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Politik, Pertahanan, dan Keamanan Pengurus Besar HMI (2010–2013), lalu Ketua Bidang Hubungan Internasional PB HMI (2013–2015).

Di posisi ini, cakrawala Tantawi meluas. Ia tak hanya berbicara tentang isu lokal atau nasional, tetapi juga global. Ia hadir sebagai delegasi Indonesia di berbagai forum internasional dari Malaysia, China, Thailand, hingga Rusia.

Forum-forum itu mengajarkannya satu hal: umat dan bangsa hanya bisa maju jika sumber daya manusianya disiapkan dengan sungguh-sungguh.

Menyemai Pengalaman, Merawat Daerah 

Meski berkiprah di tingkat nasional dan internasional, Lombok Tengah tak pernah benar-benar ia tinggalkan. Tantawi memilih kembali, membumikan pengalaman.

Ia aktif sebagai Presidium MD KAHMI Lombok Tengah (2021–2026), terlibat dalam pengembangan olahraga lewat Komite Futsal Asprov PSSI NTB, serta mengemban amanah sebagai Sekretaris Umum DPW HIPKA Provinsi NTB periode 2025–2030.

Di ranah profesional, ia sempat menjadi Tenaga Ahli Anggota DPR RI HM Syamsul Luthfi dari Fraksi Partai NasDem (2019–2024).

Pengalaman ini memberinya perspektif tentang bagaimana kebijakan publik dirancang dan bagaimana kepentingan umat seharusnya diperjuangkan di ruang-ruang kekuasaan.

Kepemimpinan yang Dipanggil Sejarah 

Musyawarah Daerah (Musda) II NWDI Lombok Tengah menjadi titik balik. Dua nama bersaing: Ahmad Tantawi dan TGH. Habib Ziadi, ketua demisioner.

Pemilihan berlangsung ketat, nyaris seimbang. Dari total suara, Tantawi unggul tipis 10 berbanding 9. Kemenangan ini bukan euforia. Ia adalah amanah.

Kini, di pundaknya bertumpu harapan agar PD NWDI Lombok Tengah menjadi organisasi yang lebih solid, inklusif, dan adaptif terhadap zaman. Pendidikan, dakwah, dan penguatan sumber daya umat menjadi fokus utama.

Bagi Ahmad Tantawi, memimpin NWDI Lombok Tengah bukan tentang kekuasaan. Ini tentang kembali merawat akar, sembari menyiapkan masa depan. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Anugrah Dany Septono
|
Editor:Hendarmono Al Sidarto

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Mataram, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.