https://mataram.times.co.id/
Pendidikan

Pakar Tekankan Pentingnya Pendidikan Seks Sejak Dini di Keluarga

Jumat, 16 Januari 2026 - 05:11
Pendidikan Seks Keluarga Cegah Penyimpangan Seksual Anak Ilustrasi. Pendidikan seks pada anak. (FOTO: Thinkstock)

TIMES MATARAM, JAKARTA – Pakar Andrologi, Seksologi, dan Anti Aging Universitas Udayana, Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And., Subsp.SAAM, menekankan bahwa pendidikan seksual sejak dini di lingkungan keluarga merupakan langkah penting untuk mencegah potensi penyimpangan seksual pada anak di masa depan.

Menurut Prof. Wimpie, peran orang tua menjadi semakin krusial di tengah derasnya arus informasi di media sosial yang tidak semuanya benar dan edukatif. Anak yang dibiarkan mengakses media sosial tanpa pendampingan berisiko mendapatkan pemahaman keliru terkait seksualitas.

“Karena itu orang tua jangan meninggalkan anaknya, apalagi tiap hari anaknya nonton media sosial. Pendidikan seks dalam keluarga sangat perlu, berikan penjelasan kepada anaknya,” ujar Prof. Wimpie dalam diskusi kesehatan di Jakarta, Kamis (15/1/2026), mengutip ANTARA.

Pendidikan Seks Harus Sesuai Usia Anak

Prof. Wimpie menjelaskan, pendidikan seksual tidak selalu berarti pembahasan yang rumit atau vulgar. Orang tua dapat memulainya melalui pendekatan sederhana dan sesuai usia anak.

Pada anak laki-laki, misalnya, orang tua dapat memperhatikan perkembangan organ kelamin saat memandikan anak. Sementara pada anak perempuan, pertanyaan seputar menstruasi, jerawat, atau perubahan fisik lainnya merupakan bentuk pendidikan seksual yang bersifat alami dan tidak langsung.

“Banyak orang tua bertanya, ‘Kok anak saya enggak tumbuh-tumbuh, kok kecil dibandingkan teman-temannya?’ Itu sebenarnya sudah bagian dari perhatian dan pendidikan seksual yang sederhana,” tutur Prof. Wimpie.

Faktor Lingkungan dan Orientasi Seksual

Lebih lanjut, Prof. Wimpie menyampaikan bahwa orientasi seksual dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik bawaan sejak lahir maupun lingkungan pergaulan. Faktor bawaan tidak dapat diubah, sementara perilaku yang terbentuk dari lingkungan bisa muncul akibat interaksi sosial tertentu.

“Kalau bicara gay, itu bisa memang bawaan dari lahir. Tapi ada juga yang muncul karena lingkungan pergaulan, misalnya karena tinggal satu kos dan melakukan hubungan homoseksual. Namun gaya sehari-harinya bisa saja tampak biasa,” jelasnya.

Keharmonisan Keluarga Jadi Kunci

Selain pendidikan seksual, Prof. Wimpie menekankan pentingnya keharmonisan keluarga dalam mendukung perkembangan psikologis anak. Lingkungan rumah tangga yang penuh konflik atau kekerasan berpotensi menimbulkan tekanan mental yang berdampak pada perilaku anak di kemudian hari.

“Mungkin waktu kecil anak melihat kekerasan ayah terhadap ibu, lalu muncul dorongan emosional tertentu. Karena itu keharmonisan keluarga harus diperhatikan,” ujarnya.

Ia pun mengingatkan orang tua untuk tidak mempertontonkan pertengkaran di depan anak. Menjaga kondisi emosional anak selama masa pertumbuhan dinilai sangat penting agar perkembangan psikologis dan seksual anak berlangsung secara sehat.

“Kalau mau bertengkar jangan di depan anak. Yang penting menjaga anak dalam masa pertumbuhannya supaya betul-betul normal,” kata Prof. Wimpie. (*)

Pewarta : Ferry Agusta Satrio
Editor : Ferry Agusta Satrio
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Mataram just now

Welcome to TIMES Mataram

TIMES Mataram is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.